Makna Keris Jalak Sangu Tumpeng

April 14, 2013
Keris Jalak Sangu Tumpeng merupakan salah satu bentuk dapur keris lurus yang mempunyai ricikan sogokan rangkap, sraweyan, tikel alis, gandik polos, dan tingil. Di antara para pencinta keris banyak yang beranggapan bahwa keris Jalak Sangu Tumpeng ini umumnya mempunyai tuah yang membuat pemiliknya mudah mencari rezeki. Itulah sebabnya keris ini biasanya dimiliki oleh para pedagang, pengusaha, pegawai bank, dan yang sejenisnya dengan itu.

Keris Jalak Sangu Tumpeng sebagai Sebuah Pusaka

Dalam pakem keris, sangat banyak dapur jalak yang kita kenal, antara lain Jalak, Jalak Ngore, Jalak Dinding, Jalak Sinom, dan Jalak Sangu Tumpeng. Dapur Jalak hampir semuanya merupakan dapur yang populer. Bahkan kerap ditemui dapur Jalak Sangu Tumpeng disimpan sebagai pusaka keluarga. Keris dapur ini kadang diberikan orang tua kepada anaknya ketika hendak pergi merantau mencari nafkah (bekerja).

Dapur Keris Jalak merupakan dapur keris yang telah ada sejak zaman kuno. Bagi sebagian penggemar keris, dapur Jalak Sangu Tumpeng dipercaya sebagai pusaka yang mempunyai tuah kerejekian atau memudahkan mencari nafkah. Bagi sebagian orang hal semacam ini dianggap kepercayaan yang mistik dan syirik. Meski dalam kenyataannya, nuansa kultural leluhur (khususnya orang Jawa) akan sulit ditinggalkan sampai kapanpun dalam memandang suatu pusaka. Karena itu tuduhan syirik jelas ditolak mentah-mentah, sebab budaya leluhur mengajarkan demikian dan sama sekali tidak memper-Tuhan-kan sebilah keris. Meski demikian benturan antara budaya dan agama masih saja sering terjadi.

Tidak ada salahnya jika kita sedikit memperluas cakrawala pemikiran. Kita mencoba untuk mencari, mempelajari, dan memahami segala sesuatu dibalik nilai-nilai budaya, bukan sebaliknya justru meninggalkan dan membuang suatu karya budaya karena takut dituduh syirik atau dianggap kuno ketinggalan jaman.

Minimnya budaya baca-tulis bangsa ini di zaman dahulu menyebabkan banyak pengajaran hidup dilakukan secara lisan (tutur). Dan agar lebih mudah mengingatnya, banyak hal dicatat dalam bentuk simbol-simbol dari suatu produk budaya misalnya dalam bentuk tarian, gambar, ukiran, cerita, upacara-upacara tradisi, dan tak terkecuali keris. Tidak ada ukuran/standar bagaimana suatu dapur atau pamor keris harus diinterpretasikan maknanya. Makna yang direfleksikan pada sebuah dapur keris akan sangat tergantung pada keleluasaan cakrawala masing-masing individu. Ajaran filsafat Jawa yang dibungkus dalam suatu karya seni keris, tentunya mempunyai suatu perlambang tentang ajaran mengenai hidup dan kehidupan. Dalam hal ini budaya Jawa membuka lebar-lebar setiap interpretasi, dengan tetap berpijak pula kepada ajaran budi luhur para leluhur.

Penamaan dapur keris tidak lepas dari maksud dan tujuan yang hendak disampaikan dalam dapur keris itu sendiri. Hal ini tidak lepas dari makna setiap ricikan yang ada dalam sebilah keris. Mungkin dengan latar belakang demikianlah, seorang empu menciptakan dapur dan memberinya nama. Empu, dalam memberi nama dapur keris tidaklah sembarangan. Sebuah nama dapat merupakan doa, harapan, simbol dari suatu ajaran, atau pun pandangan hidup. Para empu pinilih tersebut tidak hanya ahli dalam hal teknis olah tempa dan laras (ilmu), namun juga memiliki keleluasaan pengetahuan olah batin (ngelmu) yang dimanifestasikan dalam karyanya, baik secara estetika teknis fisik maupun aspek spiritual. Sehingga, dalam perkembangannya keris bukan hanya sebagai senjata, namun juga sebagai karya seni tempa logam yang memuat nilai-nilai budaya luhur.

Seseorang yang memberikan keris kepada orang lain atau keturunananya seolah memberikan pesan dan harapan agar penerima dapat menjalankan nilai-nilai yang terkandung di dalam dapur keris tersebut. Sedangkan empu keris seolah memberikan dorongan moril dan doa agar siapa pun yang menyimpan hasil karyanya diberikan petunjuk oleh Tuhan, sesuai dengan nilai-nilai simbolik dalam keris karyanya tersebut.

Nama Jalak Sangu Tumpeng dapat diartikan Burung Jalak Berbekal Tumpeng. Tumpeng adalah nasi (dibentuk seperti gunung) dengan segala lauk pauknya dalam sebuah nampan. Hal tersebut nampaknya aneh dan tak masuk akal. Bagaimana burung jalak yang kecil dapat membawa bekal tumpeng yang sedemikian besar dan berat? Supaya tidak kekurangan makan? Padahal burung jalak tidak doyan nasi tumpeng. Jika keliru menafsirkan, bisa jadi Jalak Sangu Tumpeng diartikan sebagai simbol keserakahan dan orang yang memaksakan diri.

Filosofi dalam Burung Jalak dan Nasi Tumpeng

Jalak merupakan spesies burung yang di Jawa dan terdapat beberapa jenis antara lain Jalak Kebo (hitam), Jalak Pita (putih), dan Jalak Suren (hitam putih). Dari beberapa jenis ini, yang paling menarik tingkah lakunya adalah burung Jalak Suren (Sturnus Contra Jalla). Di Jawa, sejak dahulu burung ini dikenal sebagai burung peliharaan yang bisa membantu pemiliknya menjaga rumah. Burung tersebut mempunyai naluri yang peka terhadap kedatangan tamu asing baik siang maupun malam. Dia akan berbunyi keras dan serak (bukan berkicau) jika ada orang datang dan belum dikenal seolah mengingatkan (ng-eling-ake) pemilik rumah. Selain itu, Jalak merupakan burung yang dalam mencari makan tidak merugikan orang lain. Sampai di sekitar tahun 70-an masih sering kita lihat burung ini di atas punggung kerbau di sawah. Relasi simbiosis mutualisme dengan kerbau. Jalak memperoleh makanan dan kerbau jadi sehat. Di sisi lain, jalak juga dikenal sebagai burung yang setia kepada pasangannya.

Seniman Surakarta, Ki Surono Ronowibakso (Suryanto Sastroatmojo, 2006:110) memberikan pandangannya tentang burung sebagai berikut :

"Kukila tumraping tiyang jawi, mujudaken simbul panglipur, saget andayani renaming penggalih, satemah saget ngicalaken raos bebeg, sengkeling penggalih. Candra pasemonanipun: pindha keblaking swiwi kukila, ingkang tansah ngawe-ngawe ngupaya boga, kinarya anyekapi ing bab kabetahanipun. Dene kukila ingkang sampun pikanthuk ing bab kabetahanipun, kukila kala wau lajeng wangsul dhumateng tuk sumberipun, asalusulipun, inggih punika wangsul dhateng susuhipun, ambekta kabetahaning gesangipun."

Bagi orang Jawa, burung merupakan simbol pelipur duka, memberikan rasa senang di hati, menghilangkan rasa dongkol kejengkelan di hati. Sedangkan gambaran sosoknya, dimana kepakan sayapnya melambai-lambai merupakan usaha dalam mencari pangan (nafkah), untuk memenuhi kebutuhan. Burung yang telah mendapatkan pangan, kemudian pulang kembali ke sarangnya (rumah dan keluarganya)

Tumpeng merupakan sajian nasi kerucut dengan aneka lauk pauk yang ditempatkan dalam tampah (nampan besar dan bulat terbuat dari anyaman bambu). Tumpeng merupakan tradisi sajian yang digunakan dalam upacara, baik yang sifatnya kesedihan maupun gembira. Tumpeng dalam ritual Jawa jenisnya ada bermacam-macam, antara lain Tumpeng Sangga Langit, Arga Dumilah, Tumpeng Megono, dan Tumpeng Robyong. Tumpeng sarat dengan simbol mengenai ajaran makna hidup. Tumpeng Robyong sering dipakai sebagai sarana upacara Slametan (tasyakuran). Tumpeng Robyong merupakan simbol keselamatan, kesuburan, dan kesejahteraan. Tumpeng yang menyerupai Gunung menggambarkan kemakmuran sejati. Air yang mengalir dari gunung akan menghidupi tumbuhan. Tumbuhan yang dibentuk ribyong disebut semi atau semen, yang berarti hidup dan tumbuh berkembang.

Pada zaman dahulu, tumpeng selalu disajikan dari nasi putih. Nasi putih dan lauk-pauk dalam tumpeng juga mempunyai arti simbolik, yaitu:
  • Nasi putih, berbentuk gunungan atau kerucut yang melambangkan tangan merapat menyembah kepada Tuhan. Nasi putih juga melambangkan segala sesuatu yang kita makan akan menjadi darah dan daging jadi harus dipilih dari sumber yang bersih (halal). Bentuk gunungan ini juga bisa diartikan sebagai harapan agar kesejahteraan hidup kita pun semakin "naik" dan "tinggi".
  • Ayam, ayam jago (jantan) yang dimasak utuh (ingkung) dengan bumbu kuning (kunir) dan diberi areh (kaldu santan yang kental), merupakan simbol menyembah Tuhan dengan khusuk (manekung) dengan hati yang tenang (wening). Ketenangan hati dicapai dengan mengendalikan diri dan sabar (nge-reh-rasa). Menyembelih ayam jago juga mempunyai makna menghindari sifat-sifat buruk (yang dilambangkan oleh) ayam jago, antara lain sombong, congkak, kalau berbicara selalu menyela, dan merasa tahu/menang sendiri (berkokok), serta tidak setia dan tidak perhatian kepada anak istri.
  • Ikan Lele, dahulu lauk ikan yang digunakan adalah ikan lele bukan bandeng, gurami atau lainnya. Ikan lele tahan hidup di air yang tidak mengalir dan di dasar sungai. Hal tersebut merupakan simbol ketabahan, keuletan dalam hidup, dan sanggup hidup dalam situasi ekonomi yang paling bawah sekalipun.
  • Ikan Teri/Gereh Pethek, ikan teri/gereh pethek dapat digoreng dengan tepung atau tanpa tepung. Ikan Teri dan Ikan Pethek hidup di laut dan selalu bergerombol yang menyimbolkan kebersamaan dan kerukunan.
  • Telur, telur direbus pindang bukan didadar atau mata sapi dan disajikan utuh dengan kulitnya. Jadi tidak dipotong sehingga untuk memakannya harus dikupas terlebih dahulu. Hal tersebut melambangkan bahwa semua tindakan kita harus direncanakan (dikupas), dikerjakan sesuai rencana, dan dievaluasi hasilnya demi kesempurnaan. Piwulang Jawa mengajarkan "Tata, Titi, Titis, lan Tatas", yang berarti etos kerja yang baik adalah kerja yang terencana, teliti, tepat perhitungan,dan diselesaikan dengan tuntas. Telur juga melambangkan manusia diciptakan Tuhan dengan derajat (fitrah) yang sama, yang membedakan hanyalah ketakwaan dan tingkah lakunya.
  • Sayuran dan urab-uraban, sayuran yang digunakan antara lain kangkung, bayam, kacang panjang, taoge, kluwih dengan bumbu sambal parutan kelapa (urap). Sayuran-sayuran tersebut juga mengandung simbol-simbol antara lain kangkung berarti jinangkung (Jw: melindung, tercapai). Bayam (bayem) berarti ayem tentrem, taoge/kecambah yang berarti tumbuh, kacang panjang berarti pemikiran yang jauh ke depan/inovatif, brambang (bawang merah) yang melambangkan mempertimbangkan segala sesuatu dengan matang baik buruknya, cabe merah di ujung tumpeng merupakan simbol dilah/api yang meberikan penerangan (teladan) yang bermanfaat bagi orang lain. Kluwih berarti linuwih atau mempunyai kelebihan dibanding lainnya. Bumbu urap berarti urip (hidup) atau mampu menghidupi (menafkahi) keluarga.
Pada jaman dahulu, sesepuh yang memimpin doa selamatan biasanya akan menguraikan terlebih dahulu makna yang terkandung dalam sajian tumpeng. Dengan demikian para hadirin yang datang tahu akan makna tumpeng dan memperoleh wedaran yang berupa ajaran hidup serta nasehat. Dalam selamatan, nasi tumpeng kemudian dipotong dan diserahkan untuk orang tua atau yang "dituakan" sebagai penghormatan. Setelah itu, nasi tumpeng disantap bersama-sama. Upacara potong tumpeng ini melambangkan rasa syukur kepada Tuhan dan sekaligus ungkapan atau ajaran hidup mengenai kebersamaan dan kerukunan.

Ada Sesanti Jawi yang tidak asing bagi kita yaitu "mangan ora mangan waton kumpul" (makan tidak makan yang penting berkumpul). Hal ini tidak berarti meski serba kekurangan yang penting tetap berkumpul dengan sanak saudara. Pengertian sesanti tersebut yang seharusnya adalah mengutamakan semangat kebersamaan dalam rumah tangga, perlindungan orang tua terhadap anak-anaknya, dan kecintaan kepada keluarga. Di mana pun orang barada, meski harus merantau, haruslah tetap mengingat kepada keluarganya dan menjaga tali silaturahmi dengan sanak saudaranya.

Ricikan pada Keris Dapur Jalak Sangu Tumpeng

Jalak Sangu Tumpeng adalah keris lurus yang mempunyai makna selalu menempuh "jalan lurus" menuju keutamaan hidup. Jalan lurus yang ditempuh yaitu dengan menjalani perbuatan yang baik (dadya laku utama), yang antara lain tidak sombong dan tidak mencela orang lain, serta introspeksi terhadap diri sendiri. Apalagi orang yang dianggap cerdik pandai atau berkuasa, perlu dihindari menjadi Prawata Bramantara yaitu orang yang tutur katanya membuat gusar oang lain atau membuat suasana menjadi semakin keruh. Kata-katanya tidak menentramkan, ibarat gunung yang tampaknya indah namun menghasilkan hawa panas yang berbahaya. Lebih dari itu, "laku utama" juga meliputi tindakan selalu menjaga ketakwaan kepada Tuhan serta hubungan kepada keluarga, masyarakat, dan lingkungannya (eling lan waspada).

Gandik Polos, merupakan simbol kekuatan, ketabahan hati, ketekunan, dan rajin bekerja. Dalam budaya Jawa ada sesanti yang mengatakan "sapa sing temen bakal tinemu, sapa sing tatag lan teteg bakal tutug" (siapa yang tekun akan menemukan jalan, siapa yang ulet dan tabah akan tercapai cita-citanya).

Tikel Alis, merupakan simbol baik-buruk dalam diri manusia, yang keduanya harus selalu dikendalikan. Pengendalian dua sifat tersebut akan terpancar pada watak seseorang.

Sogokan rangkap (ganda) dan Ada-ada, merupakan symbol dorongan/motivasi untuk selalu mempunyai ide, gagasan, atau inovasi kreatif untuk maju. Motivasi yang murni harus mulai dari niat lahir dan batin.

Tingil, merupakan simbol bekal pengetahuan dan ketrampilan yang pinunjul. Dalam berkarya tentunya seseorang harus berbekal pengetahuan dan ketrampilan yang memadai.

Sraweyan, merupakan simbol keluwesan. Dalam kehidupan hendaknya menjaga keselarasan terhadap sesama, masyarakat, dan lingkungan serta dapat beradaptasi dengan kebiasaan setempat dan menghargai pendapat serta sikap orang lain.

Pijetan/blumbangan, merupakan simbol keikhlasan hati dan kesabaran. Hidup dan bekerja harus dilandasi dengan hati yang senang, mencintai pekerjaannya, dan ikhtiar serta tawakal. Tidak ada yang disebut takdir sebelum diawali dengan ikhtiar.

Jalak Sangu Tumpeng Merupakan Ajaran Hidup Dalam Mencari Nafkah

Dapur Jalak Sangu Tumpeng secara keseluruhan sebagaimana ditunjukan dalam simbolisasi Jalak, Tumpeng, bentuk keris lurus, dan ricikan bilah merupakan ajaran hidup dalam mencari nafkah. Jalak merupakan simbol atau gambaran seseorang yang berkewajiban mencari nafkah – dan tentunya untuk keperluan tersebut dia perlu mempersiapkan diri baik mental maupun spiritual. Sesorang dalam mencari nafkah dan menjalani hidup diharapkan lebih mengutamakan perbuatan yang baik (dadya laku utama) selalu menjaga ketakwaan kepada Tuhan dan hubungan dengan keluarga, masyarakat, serta lingkungannya (eling lan waspada).

Dalam mencari nafkah hendaknya berlaku jujur dan tidak merugikan orang lain. Mencari nafkah memang tidak mudah, namun jika diberi kemudahan hendaknya selalu juga waspada. Sebab uang sebanyak apapun jika tidak halal sumbernya jangan diambil. Lebih baik uang sedikit namun halal dan sah. Sebagaimana diajarkan dalam Tembang Dandanggula Serat Sana Sunu (Yasadipura II):

"...yang suksma, angupaya sandang pangan teka gampil, yen gampang den waspada. Sangkaning arta yen tanprayogi, haywa arsa sanajan akathah, yen during sah hywa pinet, sathitik yen panuju, den pakolih amburu kasil, liring pakolih ingkang, sah tentrem ing kukum..."

Hal-hal yang tersirat dalam dapur Jalak Sangu Tumpeng merupakan pandangan dan pegangan hidup untuk mencapai sukses dalam bekerja dan berusaha. Sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam dapur ini, menjadikannya sebagai simbol pusaka dalam mencari nafkah. Sesorang yang menyimpan dapur keris ini, seolah menyimpan nilai-nilai ajaran yang dapat digunakan sebagai pandangan hidup.

Disadur dari Majalah PAMOR, Edisi 09 tulisan Wawan Wilwatikta
Sumber gambar: Ancient Keris

Tosan Aji adalah istilah bahasa Jawa untuk senjata tradisional yang terbuat dari besi dan dianggap sebagai benda pusaka. Di sini kita belajar dan berbagi informasi seputar Tosan Aji seperti Keris, Tombak, dan benda pusaka lainnya.

Artikel Terkait

Selanjutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »