Merawat Benda Pusaka

April 03, 2013
Merawat dan Menjamas Pusaka - Menjamas pusaka adalah proses merawat dan menjaga pusaka hingga tetap bebas dari karat hingga terjaga dari kerusakan. Cara merawat pusaka ini mulai dari proses membersihkan dari karat (mutih), mewarangi, hingga meminyaki dan memberi wewangian pada pusaka. Keseluruhan proses ini disebut proses Jamasan Pusaka. Dan yang terpenting dari seluruh proses ini adalah sikap batin kita yang harus "nderek langkung" alias permisi, menghormati, dan tidak meremehkan. Hal tersebut merupakan penghormatan kita atas kerja sang empu dan atas berkah Tuhan atas benda pusaka tersebut.

MENCUCI PUSAKA / MUTIH

Syarat mutlak agar bilah keris bisa diwarangi dengan baik adalah bilah harus dicuci (diputih) dengan baik terlebih dulu. Proses mutih akan membersihkan pusaka dari berbagai noda, kotoran, atau karatnya – termasuk warangan menempel sebelumnya. Salah satu cara tradisional mutih adalah :
  1. Rendam bilah keris dengan air kelapa tua selama beberapa hari, tergantung kadar kotoran dan karatnya.
  2. Gosok bilah dengan jeruk nipis sehingga menjadi putih keperakan.
  3. Buah lerak dibuang isinya dan diberi sedikit air dalam mangkok agar berbusa.
  4. Dengan sikat halus, gosok keris yang telah dimandikan tadi dengan air lerak.
  5. Saat menggosok keris dengan sikat jangan dibolak-balik.
  6. Sebaiknya mulai dari pesi sampai ganja terus ke awak-awak hingga pucuk.
  7. Lakukan dengan pelan dan mantap hingga benar-benar bersih.
  8. Lebih hati-hati lagi jika membersihkan keris kinatah atau keris yang kembang kacangnya sudah tipis.
  9. Lakukan pada bilah keris baliknya.
  10. Setelah benar-benar bersih, keringkan dengan menggunakan kain bersih dengan cara memijit-mijitkan kain ke seluruh bagian.
  11. Keris yang telah kering disiram dengan air bersih dan keringkan kembali seperti sebelumnya.
Beberapa cara yang lain yang biasa digunakan untuk mutih yaitu :
  1. Direndam dalam air perasan jeruk nipis. Akan lebih baik jika kulit buah dikupas sebelum diperas. Kulit jeruk bisa menyebabkan bilah keris menjadi kemerahan. Perlu sering dicek waktu perendaman karena air jeruk ini bisa merusak besi keris jika terlalu lama direndam. Proses ini biasanya membutuhkan waktu sektar 6 jam – 1 hari tergantung kualitas warangan yang lama.
  2. Jika ingin tidak terlalu merusak besi keris, bisa menggunakan air kelapa tua. Ini bisa membutuhkan waktu antara 2 - 5 hari tergantung warangan yang melekat pada bilah. Jika menggunakan cara ini, maka tiap hari kita perlu membersihkan keris dengan sabun colek. Setelah kering dan sabun bersih, maka dimasukkan lagi ke air kelapa. Tetapi jangan mengganti air kelapa tersebut, biarkan menggunakan yang awal.
  3. Jika ingin instant, bisa menggunakan air campur dengan serbuk sitrun. Tetapi ini jelas tidak dianjurkan karena bisa membuat bilah keris berpori atau berbintik. Jadi serat besi akan hilang.
  4. Cara paling ekstrim dan sangat tidak dianjurkan adalah dengan menggunakan cairan HCL atau Asam Klorida. Ini sangat merusak keris walau keris bisa putih segera dalam waktu hanya sekitar 5 menitan.
Setelah itu keris dioles dengan jeruk nipis yang sudah di kupas dan dibelah menjadi 2 bagian. Bisa ditambahkan dengan abu gosok, dimana belahan jeruk dimasukkan ke abu gosok dan dioleskan ke keris kemudian cuci dengan air bersih. Memutih keris bisa dilakukan siapa saja. Setelah bilah bebas karat dan disikat sabun colek jeruk nipis, ya tinggal disikat terus pelan-pelan. Sabun - jeruk - sabun - jeruk sampai nyaris "putih" kemilau. Jangan memutihkan keris dengan cara di ampelas atau apalagi di kikir.

MEWARANGI

Proses "memutih" bilah keris adalah kunci sukses pertama untuk mewarangi. Proses lainnya adalah setelan (pengaturan) dalam membuat warangan yang pas untuk berbagai jenis bilah dan proses mewarangi itu sendiri. Bahan utama membuat warangan adalah Batu Warangan (serbuk warangan) dan air jeruk nipis.
  1. Batu Warangan Batu warangan yang bermutu bagus adalah batu warangan eks cina. Batu warangan harganya sangat mahal dan langka (sekitar 2 juta rupiah/ons). Batu warangan berbeda atau tidak 100% sama dengan arsenikum (Ar). Arsenikum yang dijual di toko kimia biasanya dipakai sebagai campuran agar warangan lebih "galak". Akan tetapi hati-hati, selain beracun arsenikum juga lebih merusak bilah karena kemurniannya jika dibandingkan dengan batu warangan eks Cina. Batu warangan eks Cina memang tidak murni arsenik. Di dalamnya terdapat pula kandungan kapur, belerang, dan arsenik itu sendiri.
  2. Jeruk Nipis Yang dipakai adalah jeruk nipis (Jawa: Jeruk Pecel), bukan jeruk lemon, atau jeruk purut. Jeruk nipis dikupas kulitnya dengan pisau kecil, agar cuma tinggal kulit dalamnya. Jeruk dibelah membujur sesuai serat jeruk, hilangkan bijinya, lalu peras di atas waskom yang sudah ditutupi saringan teh-kopi. Ampas perasan jeruk diperas lagi pakai kain kaos di atas saringan. Hasilnya disaring lagi untuk mendapatkan air jeruk yang bening. Simpan beberapa hari; bisa juga beberapa bulan; di botol maka larutan jeruk akan mengendap dan menghasilkan larutan jeruk yang sangat bening. Butuhkan sekitar 15 kg jeruk nipis untuk membuat sekitar sekitar 1,5 liter air jeruk.
  3. Meramu Warangan Meramu larutan warangan ini juga penting karena bila kita belajar mewarangi tentu tak lepas pula dari membuat warangan. Biasanya, jika kita ingin membuat larutan warangan baru, dibutuhkan juga "bibit warangan yang sudah jadi dan berkualitas bagus". Bibit yang dibutuhkan tidak perlu banyak, cukup secangkir (100 ml) untuk 1 liter larutan warangan baru. Kegunaan "bibit" ini adalah sebagai katalisator agar warangan baru bisa bereaksi. Berhasil atau tidaknya warangan bisa dilihat dengan memasukkan paku yang diikat dengan benang ke dalam botol larutan. Warangan yang berhasil akan segera menghitamkan paku yang digantung benang seharian.
Cara membuat larutan warangan yang baru:
  1. Pertama endapkan dulu selama berhari-hari hasil perasan air jeruk. Ambil botol kaca yang kosong, lalu tuang cairan yang bening (bagian atas) ke botol baru. Endapan jeruk nipis jangan dibuang, akan tetapi pisahkan dalam botol lain. Endapan ini bisa digunakan untuk bahan "memutih bilah". Dalam waktu lebih dari tiga bulan, jeruk bening dalam botol akan berubah warna dari kuning menjadi oranye. Inilah yang akan dipakai untuk larutan warangan baru.
  2. Selanjutnya adalah melarutkan warangan. Haluskan batu warangan dan campur dengan perasan air jeruk tadi. Komposisinya tergantung pada hasil yang diharapkan karena setiap jenis besi kadang harus dilakukan setelan dengan cara menambahkan air jeruknya. Bisa dibilang tidak ada warangan yang langsung jadi. Harus di-setel dahulu dengan cara mencelupkan bilah percobaan yang sudah diputih. Jika dirasa "kurang galak", tambahkan perasan jeruk nipis agar lebih "galak".
  3. Hal ini memang membutuhkan perasaan dan pengalaman tersendiri. Seorang ahli warangan yang baik memiliki beberapa jenis larutan warangan yang akan dipakai untuk jenis logam/besi yang berbeda-beda pula. Bahkan tak jarang mereka punya larutan warangan untuk beberapa jenis tangguh, jika tangguh dianggap mewakili jenis-jenis logam yang berbeda. Dia juga akan melihat "hari baik" untuk mulai proses mewarangi, biasanya saat cuaca terang dan matahari bersinar dengan cerah (sebagai katalis).
Beberapa Metode Pewarangan

Hasil proses mewarangi dipengaruhi oleh minimal tiga faktor yaitu jenis logamnya, kualitas ramuan warangan, serta cara melakukan pewarangan. Ada juga sebelum diwarangi, bilah keris yang sudah di-putih dijemur agar cukup panas sebelum dicelup dalam larutan warangan. Ada juga yang memakai metode warangi bertahap yakni dimulai dari tahapan "warangan nom/muda" setelah itu meningkat ke "warangan tua" sehingga bilah semakin menghitam.

Secara garis besar, ada dua metode mewarangi yang umum diketahui :
  1. Cara di-koloh
    • Siapkan warangan yang telah dicampur air jeruk
    • Rendam pusaka dalam cairan warangan beberapa kali dan setiap sepuluh menit diangkat kemudian diangin-anginkan sambil dibantu dengan pijatan tangan hingga meresap.
    Mencelup / merendam bilah dalam warangan tidak sembarangan, diperlukan pengalaman empiris yang sulit dituturkan dalam tulisan. Yang pasti setiap upaya mewarangi pasti sering terbentur kegagalan. Jika gagal? Ya diulangi lagi, diputih lagi. Begitu seterusnya
  2. Cara di-nyek
    • Pusaka dijemur hingga panas lalu dilumuri warangan secara langsung dengan cara dipijat-pijat (di-nyek) hingga kering.
    • Setelah kering dijemur lagi dan kemudian kembali dilumuri warangan dan dipijat-pijat. Begitu seterusnya hingga tiga kali.
    • Siapkan air jeruk dicampur dengan air buah klerek/air sabun lalu pusaka dikeplok dengan kedua genggaman tangan, dibersihkan dengan air bersih lalu dijemur lagi
    • Setelah itu kembali ke proses awal, hingga beberapa kali sambil diamati bagian per bagian. Semakin lama maka warna pusaka semakin gelap, hingga guwaya pusaka menjadi bagus. Biasanya pengulangan hingga sembilan kali. Setelah yang terakhir, dibilas hingga bersih dari bercak merah warangan yang tidak menempel.
    Menjamas dengan cara di-nyek memang membutuhkan banyak warangan. Keunggulan cara ini adalah membuat pamor tidak mubyar melainkan kelem dan angker. Serat atau lapisan yang sering disebut pamor sanak pada besi keleng dapat tenggelam oleh nuansa wingit. Namun hasil metode ini kadang dirasa kurang kontras jika dibandingkan dengan yang di-koloh.

MEMBERI WEWANGIAN DAN MEMINYAKI PUSAKA

Berbeda dengan tahap sebelumnya, tahap ini merupakan tahap yang kerap diulang-ulang hingga sebulan sekali, terutama bagian meminyaki keris. Tahap ini disebut pula tahap pemeliharaan yang menjaga agar keris tidak berkarat.
  1. Memberi Wewangian Setelah keris diberi warangan, ada baiknya jika keris diberikan wewangian dupa terlebih dahulu. Caranya :
    • Pertama-tama olesi keris dengan minyak pusaka tipis-tipis.
    • Ambil campuran bubuk kayu gaharu, ratus, dan ramasala; taburkan pada bilah keris hingga lengket; biarkan beberapa menit.
    • Nyalakan lilin dan letakkan bilah keris di atas lilin dengan jarak lima jari.
    • Gerakkan ke kiri dan ke kanan, biarkan beberapa saat (tidak perlu sampai terbakar!)
    • Bersihkan dengan sikat halus.
    • Gosok lagi dengan minyak pusaka tipis-tipis seperti di atas.
    • Taburi dengan bubuk kayu cendana dan letakkan di atas lilin seperti tadi.
    • Setelah itu bersihkan lagi dengan sikat halus, diamkan beberapa saat.
    • Olesi dengan minyak pusaka. Angin-anginkan dan jangan tergesa dimasukkan dalam warangka.
    • Jangan menyimpan keris di tempat yang tertutup rapat tanpa sirkulasi udara.
  2. Membuat Minyak Pusaka Cara membuat Minyak Pusaka 100 cc adalah :
    • Minyak Parafin 60 cc
    • Bibit minyak Cendana 25 cc
    • Bibit minyak Melati 5 cc
    • Bibit Minyak Kenanga 10 cc
    Bisa juga ditambah atau diganti dengan bibit minyak lainnya (gaharu, kokka, dan lain-lain) sesuai selera karena bersifat sangat subjektif dan terkadang aroma / bau keris juga menunjukkan identitas pemiliknya. Jangan dicampur bahan parfum atau minyak beralkohol karena akan membuat keris menjadi merah berkarat.

Sumber dan materi referensi :
1. Milis FDK Yahoo Group (Forum Diskusi Keris)
2. Majalah Pamor Edisi 03
3. Majalah Pamor Edisi 05
4. Haryono Haryoguritno, "Keris Jawa: Antara Mistik dan Nalar", Indonesia Kebanggaanku, Jakarta, 2005
5. Bambang Harsrinuksmo, "Ensiklopedi Keris", Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2004
6. Koesni, "Pakem Pengetahuan tentang Keris", Aneka Ilmu, Semarang, 1979
7. Sumber gambar warangan : rykabursa

Tosan Aji adalah istilah bahasa Jawa untuk senjata tradisional yang terbuat dari besi dan dianggap sebagai benda pusaka. Di sini kita belajar dan berbagi informasi seputar Tosan Aji seperti Keris, Tombak, dan benda pusaka lainnya.

Artikel Terkait

Selanjutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »