Cara Membuat Keris

April 24, 2013
Keris dengan segala cerita dan legenda magisnya masih tetap eksis hingga kini. Meski demikian, keris dalam perkembangannya dikoleksi bukan lantaran kesaktian atau tuahnya, tetapi juga keindahan dari fisik keris itu sendiri. Proses pembuatan keris tidak beda dengan benda-benda seni kriya lain, seperti ukir atau pahat (batu, kayu, tulang, besi). Yang sangat membedakan justru pada kisah-kisah magis yang dibangun bersama kehadiran keris dan tombak.

Kisah-kisah magis itulah yang menjadikan keris sangat sulit untuk diproduksi massal. Tidak semua orang mau mengoleksi keris sebagai benda seni, karena takut. Namun dari kisah-kisah magis itu pulalah keris menjadi seni tingkat tinggi yang hanya dinikmati oleh mereka yang benar-benar mengerti, memahami dan menghargai serta mencintai benda yang dihasilkan oleh seni tempa itu.

Dalam dunia pewayangan, cerita-cerita kehebatan tentang keris menjadi sangat dominan. Hampir setiap tokoh wayang memiliki senjata berupa keris. Wayang purwa dengan kisah Mahabarata dan Ramayana yang berkembang sejak zaman Majapahit akhir dan masuknya peradaban Islam, menempatkan keris sebagai benda yang begitu penting. Empu-empu keris dalam kisah pewayangan hanya selalu disebutkan namanya, tetapi tidak pernah diperlihatkan sosoknya. Empu Ramadi, merupakan salah satu yang paling terkenal. Bahkan Ki Dalang sering menyebutkan bahwa Empu Ramadi merupakan pembuat keris di Kahyangan, alamnya para dewa. Keris-keris yang sangat populer di dunia pewayangan antara lain Kalamisani, Kalanadah, Pulanggeni, Jalak, Carubuk. Sedangkan yang berupa panah antara lain Guwawijaya, Pasopati, Chakra, Nagabanda, dan Cundamanik. Yang berupa gada antara lain gada Rujakpolo, Lukitasari, dan Wesi Kuning.

Di zaman Mataram Islam, Sultan Agung Hanyakrakusuma menciptakan tokoh raksasa bernama Buto Cakil. Tokoh ini merupakan petarung yang sangat ahli memainkan keris. Keris Kolomunyeng namanya. Namun, karena Buto Cakil memang diciptakan sebagai tokoh jahat, dalam setiap penampilannya, Buto Cakil selalu mati oleh kerisnya sendiri. Di zaman Islam keris dan senjata tombak yang sangat terkenal adalah Keris Setan Kober, milik Adipati Jipang Arya Penangsang. Tombak Kyai Ageng Plered milik Panembahan Senapati. Bahkan dalam perjalanan sejarahnya, Pangeran Diponegoro selalu mempersenjatai diri dengan sebilah keris. Bisa dilihat dalam lukisan-lukisan Diponegoro, keris selalu menjadi bagian yang tidak pernah ketinggalan. Demikian pula dengan bapak TNI, Jenderal Sudirman yang selalu mengenakan keris dalam setiap penampilannya.

Benarkah keris merupakan benda sakti? Jawabnya ada pada anda semua. Demikian juga jika ditanyakan, benarkah keris itu indah, jawabnya juga ada dalam diri anda semua. Tetapi untuk melestarikan keris, para pekerja seni banyak yang sudah mencurahkan perhatian. Entah sebagai kolektor, pedagang, pengagum atau bahkan pembuat. Mereka memiliki andil yang sangat besar dalam mengembangkan budaya warisan leluhur kita itu. Bagaimana membuat keris, adalah pertanyaan yang paling menarik. Karena jika ingin menjadi kolektor, sediakan saja uang yang cukup, maka syarat mendasar yang dibutuhkan sudah anda miliki.

Pada dasarnya, sebilah keris terdiri atas tiga jenis unsur logam, besi, baja, dan pamor (bisa terbuat dari nikel dan yang lebih mahal terbuat dari batu meteorit). Namun, untuk keris tanpa pamor (kelengan) hanya terdiri atas dua bahan, baja dan besi. Mengawali pembuatan keris, seorang empu akan memilih besi terbaik untuk mendapatkan hasil yang baik. Secara kasat mata, besi yang berumur tua akan menghasilkan keris yang bagus karena karat pada besi berusia tua lebih sedikit dibandingkan dengan besi berusia muda.

Berikut di bawah ini adalah nama-nama alat dan istilah yang biasa dipergunakan para Empu pembuat keris dalam bekerja secara tradisional. Seperti yang ada di besalen milik Ki Sungkowo Harumbrojo di Gatak, Sumberagung, Moyudan, Sleman, Yogyakarta.
  • Empu: Pembuat keris
  • Panjak: Asisten pembuat keris. Panjak terdiri atas dua orang, satu bertugas menyalakan api dan memompa sehingga api terus menyala. Asisten lainnya bertugas menghantamkan palu (gandin besi) pada saat proses penempaan.
  • Besalen: Studio atau bengkel pembuatan keris
  • Paron: Alas menempa besi. Terbuat dari besi baja berbentuk mirip lingga. Biasanya disebut paron dengkul karena bentuknya mirip lutut orang yang sedang jongkok.
  • Kowen: Tempat air untuk mendinginkan alat-alat.
  • Cakarwa: Alat sejenis gancu yang berfungsi untuk mengarahkan bara api.
  • Ububan: Sejenis pompa. Terdiri atas dua tabung kayu yang bentuknya persis dengan pompa-pompa yang kita kenal di bengkel-bengkel. Sekarang alat ini diganti menggunakan blower.
  • Wirungan: terbuat dari balok batu yang dilubangi di tengahnya. Berfungsi sebagai alat memfokuskan angin sehingga yang dihasilkan oleh pemompaan pada ububan.
  • Supit: alat sejenis tang dengan ukuran yang berbeda-beda (setidaknya membutuhkan lima supit dengan ukuran berbeda-beda) sebagai alat memegangi besi yang dibakar. Digunakan saat besi dibakar atau saat besi ditempa.
  • Ploncon: terbuat dari dua batang kayu yang digandeng. Di atas dua batang kayu inilah empu melakukan pengikiran dan menyempurnakan bentuk keris.
  • Gandhen besi: Yang paling besar seberat 2 kg, biasanya dipegang oleh panjak.
  • Mimbal: palu besi dengan ukuran lebih kecil (kurang lebih seberat 5 ons), yang biasa dipegang oleh empu.
  • Kikir: Ada berbagai bentuk kikir dengan ukuran kasar dan halus yang berbeda-beda.
  • Arang kayu jati: berguna sebagai bahan bakar. Selama ini diyakini arang kayu jati merupakan penghasil panas terbaik, karena pemijaran sempurna hanya dihasilkan ketika panas besi yang dipijar mencapai 1.100 derajat celcius.
  • Wungkal atau gerinda: Batu pengasah
  • Jeruk nipis: digunakan untuk mencuci keris yang secara fisik sudah selesai dibentuk dan diasah.
  • Batu Warangan atau arsenikum: berfungsi untuk memunculkan pamor pada proses terakhir pembuatan keris. Tetapi harus hati-hati sekali, karena arsenikum mengandung racun yang berbaya bagi kesehatan.
  • Tlawah: Balok kayu yang dilubangi di tengahnya, berfungsi untuk merendam keris dengan air jeruk nipis saat dilakukan pencucian.
Proses pembuatan keris diawali dengan pemilihan bahan baku yang baik. Dalam kasanah perkerisan ada berbagai jenis besi. Yang sering disebut-sebut ada besi Mangangkang, Pulosani, Balitung dan sebagainya. Tentu hanya mereka yang sudah mahir yang memiliki kemampuan memilih besi mana yang baik dan mana yang tidak baik sebagai bahan keris. Masing-masing pembuat keris memiliki keterampilan berbeda-beda. Ada yang hanya dengan cara mengamati fisik dan warna besi, ada yang harus memukul dan dari suara dentangan besi itu bisa ditentukan pilihannya. Semua itu, konon tergantung kebiasaan dari pembuat keris, dan konon pula hasilnya akan sama, karena tujuannya sama; memilih bahan yang bagus.

Besi yang sudah ditentukan, kemudian dibentuk menjadi balok lebar sekitar 5 sentimeter, tebal 2-3 cm. Ada dua balok besi berukuran, bentuk dan berat dibuat sama. Langkah kedua, menyiapkan pamor. Ada beberapa jenis pamor yang biasa dipakai. Lazimnya, sekarang para pembuat keris mempergunakan nikel. Besi nikel bisa didapatkan di pasar besi tua dengan mudah. Namun ada juga yang mempergunakan velg mobil atau sepeda motor bekas.

Untuk keris tertentu, biasanya pesanan , batu meteorit dipakai sebagai pamor. Namun karena barang ini sudah sangat langka, meteorit bisa "dikumpulkan" dari pedang atau keris tua yang sudah tidak terawat kemudian dilebur untuk diambil pamornya. Jika pamor yang dipakai berupa kepingan kecil-kecil, untuk mengumpulkannya bisa diakali dengan membuat amplop dari lempengan besi. Kepingan-kepingan tersebut kemudian dimasukkan dalam amplop tersebut, disatukan dan kemudian dibentuk menjadi balok yang bentuknya sama dengan balok besi yang disiapkan di awal.

Balok berisi nikel, dijepit di antara dua balok (batangan) besi dan kemudian dibakar. Proses pembakaran diperkirakan mencapai 1.000 derajat celcius lebih. Jika pada bara api sudah muncul kembang api yang berasal dari balok-balok besi yang dibakar tadi, proses penempaan segera dimulai. Proses penempaan ini merupakan cara untuk menyatukan tiga balok tersebut. Dalam proses ini, ketiga balok harus benar-benar rekat, karena saat itulah seorang empu sedang mengawali pembuatan motif pamor. Jika sudah benar-benar menyatu, besi itu kemudian dipotong menjadi dua, sehingga pamor akan menjadi dua lapis. Dilanjutkan seperti pada proses awal, yakni perekatan dan pemanjangan besi yang sudah berpamor itu. Demikian seterusnya penempaan dilakukan, sampai mendapatkan lapisan besi dengan lapisan-lapisan yang diinginkan. Semakin banyak lapisan, akan semakin halus pamor yang diperoleh. Menghitung lapisannya menggunakan deret ukur. 1, 2, 4, 8, 16, 32, 62 dan seterusnya.

Bahan dasar besi berpamor ini, sudah bisa dipergunakan untuk pamor jenis beras wutah (wos wutah). Misalnya pada kelipatan 62, proses dihentikan pun bisa. Besi berpamor itu kemudian dibagi dua, dan dibentuk menjadi trapesium. Ujung yang lebih kecil diarahkan menjadi bagian ujung keris, sedangkan yang lebar diarahkan menjadi bagian pangkal keris. Berikutnya, disiapkan potongan baja murni dan dibentuk trapesium sedikit lebih lebar dibanding trapesium dengan bahan besi berpamor. Tiga trapesium ini kemudian direkatkan dengan pembakaran yang sama sebagaimana dilakukan pada proses pembuatan bahan dasar besi berpamor.

Daya tarik keris masa kini selain pada desain fisik, juga terutama pada motif pamornya. Ada ribuan motif pamor yang sudah diciptakan para empu keris, dari yang tradisional/pakem hingga kontemporer. Cara membuat pamor keris antara keris yang satu dan yang lain tidak akan sama. Hal itu disebabkan kreasi, proses penempaan, proses pembakaran dan lain sebagainya yang dilakukan para pembuat keris.

Pamor beras wutah, merupakan motif dasar dari segala jenis pamor. Dari pamor beras wutah yang hanya berupa lapisan-lapisan pamor, kemudian dibentuk menjadi berbagai jenis dengan menambah langkah-langkah pelipatan, arah lipatan, pilinan, pengikiran, atau keras lembutnya hantaman palu pada saat proses penempaan. Pamor adeg sapu, hanya berupa garis-garis berdiri. Dibuat dengan cara mengambil penampang dari pamor beras wutah. Pamor udan mas, menggunakan pamor beras wutah yang diberi aksen-aksen seperti bulatan di beberapa titik. Cara membuat bulatan, keris yang sudah setengah jadi, diberi ketokan menggunakan besi sehingga menimbulkan luka. Saat dikikir, titik-titik ketokan itu yang melesak ke dalam akan memunculkan bulatan-bulatan.

Pamor bonang serenteng, cara pembuatannya sama persis dengan pamor udan mas. Bedanya, jika dalam pamor udan mas posisi aksen ketokan tidak sejajar, sedangkan pada pamor bonang serenteng posisi ketokan sejajar di kiri dan kanan dari pangkal hingga ujung keris. Pamor ujung gunung, seperti membuat pamor adeg sapu. Bedanya, sebelum dibentuk keris, lipatan pamor yang masih bahan ditekuk. Dari tekukan itulah kemudian akan muncul pamor bentuk garis-garis mengerucut seperti garis gunung yang bertumpuk-tumpuk.

Pamor kembang anggrek (ada yang menyebut ron genduru). Proses pembuatan pamor jenis ini cukup memerlukan waktu. Besi yang sudah mengandung lipatan-lipatan pamor, dibentuk menjadi plat panjang. Plat tersebut kemudian dilipat-lipat dan direkatkan. Pinggir-pinggir lipatan dibuang dengan cara digergaji. Hanya bagian tengah lipatan saja yang dimanfaatkan. Besi berpamor lipatan yang sudah dalam ujud tumpukan-tumpukan itu kemudian dibelah tengahnya dalam posisi berdiri menggunakan pasak besi. Untuk membelah, harus melalui proses pembakaran. Sebab, lajur yang dilalui pasak besi itulah yang nantinya akan membentuk pamor sehingga menghasilkan lukisan seperti kembang anggrek. Pamor tambal, adalah motif pamor yang dibuat dengan cara menempelkan gulungan atau lipatan besi berpamor pada baja yang kemudian dibentuk menjadi keris.

Tentu akan sangat panjang menuturkan pembuatan masing-masing pamor. Dalam perkembangan modern, empu-empu masa kini sangat rajin membuat desain-desain pamor selain desain kerisnya.

Disadur dari Kompas, Tulisan asli oleh IGN Sawabi

Tosan Aji adalah istilah bahasa Jawa untuk senjata tradisional yang terbuat dari besi dan dianggap sebagai benda pusaka. Di sini kita belajar dan berbagi informasi seputar Tosan Aji seperti Keris, Tombak, dan benda pusaka lainnya.

Artikel Terkait

Selanjutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »