Makna Ricikan Pudak Sategal

17.41.00 0
Ungkapan yang populer dalam kehidupan orang Jawa sejak dahulu yaitu "Wong Jowo nggone semu, sinamun ing samudana, sesadone ingadu manis" yang berarti "Orang Jawa menyukai sesuatu yang semu, disamarkan dengan perlambang, diwujudkan dalam keindahan". Semu berarti samar atau tidak tampak jelas. Ungkapan ini menunjukkan sifat orang Jawa yang dalam menyampaikan gagasan kepada orang lain umumnya tidak secara langsung atau lugas.

Pandangan hidup, nasehat, dan ajaran-ajaran dalam kehidupan orang Jawa merupakan hasil olah rasa berbudaya. Dalam kehidupan sehari-hari dijumpai penggunaan simbol-simbol sebagai pengungkapan rasa budaya pada suatu karya seni, seperti pakaian, kain batik, upacara, ukiran, arsitektur, dan senjata. Simbol-simbol pada suatu karya seni diharapkan dapat digunakan sebagai sarana komunikasi atau media untuk menitipkan pesan, nasehat atau ajaran bagi keluarga, masyarakat maupun generasi selanjutnya menuju peradaban luhur.

Tidak ada rumusan maupun ukuran timbangan yang pasti, dalam mengungkapkan simbol-simbol, bahkan setiap pernyataan yang muncul dapat dianggap sebagai suatu pengkayaan makna, sepanjang masih selaras dengan maksud utamanya. Upaya mencari makna setiap simbol merupakan usaha untuk merawat sebagian dari budaya, agar memberikan arti yang sesungguhnya (esensi budaya). Dalam seni keris, salah satu simbol yang sangat menarik untuk dikaji dan diuraikan maknanya yaitu ricikan Pudhak Sategal (Pudak Sategal).

Pudak Sategal

Pudak Sategal merupakan nama dari ricikan Keris yang terletak di bagian sor-soran tepi bilah. Bentuk ricikan ini menyerupai daun Pudhak (Pandan) dengan ujungnya yang meruncing. Bentuk pola ini, untuk bagian belakang keris pangkal daun dimulai dari sisi tepi bagian bawah sor-soran kemudian meruncing ke atas, kurang lebih sejajar dengan panjang sogokan. Sedangkan untuk bagian depan, pangkal daun dimulai dari atas gandik. Menurut Serat Centhini, Sekar Dhandhanggula bait ke 24-28 (1992:75), Pudhak Sategal merupakan dapur keris yang mempunyai luk 5 dengan ricikan kembang kacang, sogokan dan sraweyan yang diputus bagian bawah. Sehingga, pola Pudak Sategal merupakan sraweyan yang dibentuk menyerupai daun Pudhak. Menurut Bambang Harsrinuksmo (2004:376), ricikan Pudak Sategal baru ada setelah zaman Mataram Akhir dan popular pada jaman Surakarta. Keris tangguh Tua seperti tangguh Majapahit, Blambangan, Tuban, dan Madura Tua tidak ada yang memakai ricikan Pudak Sategal.

Apakah ricikan Pudhak Sategal merupakan pengganti atau terinspirasi pola Kinatah Kamarogan yang populer di jaman Mataram Sultan Agung? Ataukah sebagai simbol cita-cita Panembahan Senopati saat berupaya mengembalikan kejayaan kerajaan Mataram dengan konsep "ganda arum"? Kata "Mataram" jika di jarwa dhosok-kan berasal dari kata Mata Arum yang berarti sumber keharuman. Konsep pemerintahan yang berdasar hati nurani yang memberikan manfaat dan kemakmuran pada rakyat dan lingkungannya serta memberikan keharuman sepanjang masa. Belum ada catatan tertulis atau penelitian yang memastikan demikian sehingga tentu masih memerlukan penelitian untuk pembuktian lebih lanjut.

Pudak Sategal merupakan ricikan keris seperti halnya dengan ricikan lain yang terdapat pada sebilah keris, antara lain gandik, sogokan, tikel alis, pijetan dan kembang kacang. Pembuatan setiap ricikan oleh empu pada keris selain mempunyai tujuan fungsional, juga memuat makna filosofis. Bentuk ricikan pudak sategal pada bilah keris memang mirip dengan daun pandan/pudhak yang jika tampak dari depan, terlihat menyembul di kiri-kanan pohon dengan bentuk meruncing ke atas. Mengapa para empu memilih pudhak sebagai simbol ajaran pada karyanya? Sebenarnya banyak pola yang serupa dengan daun pandan/pudhak yang meruncing misalnya gading gajah, tanduk banteng, cula badak, dan taring macan. Bentuk-bentuk tersebut mirip satu dengan lainnya, tapi mungkin saja kurang mempunyai makna yang mendalam dan kurang akrab dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Empu Keris jaman dahulu memberikan gambaran pada kita, bahwa mereka merupakan pekerja seni sekaligus spiritualis. Mereka mempunyai kesanggupan untuk memberikan tema universal yang menyangkut kehidupan sehari-hari manusia pada setiap karya mereka. Mereka menjadikan Keris menjadi suatu media introspeksi diri terhadap nilai-nilai humanis dan spiritual.

Pandan atau Pudhak

Pandan (Pandanaceae) merupakan tumbuhan yang sangat lekat dengan kehidupan orang Jawa sejak jaman kuno. Daun pandan digunakan dalam kehidupan sehari-hari, sebagai pewarna makanan, penyedap masakan, sebagai obat, tikar, kosmetik, sarana upacara, maupun sebagai bahan pememeliharaan batik. Masyarakat banyak memanfaatkan pohon pandan dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk daun pandan menghadap ke atas meruncing diujung dan sering melingkar di sebatang pohon, sehingga tampak dari depan mencuat dikiri dan kanan. Bunga pohon pandan dinamakan Pudhak, namun daun pandan sendiri sering disebut Pudhak. Pudhak merupakan bunga yang mempunyai aroma harum lembut selama berhari-hari dan menebar aroma harum menjelang sore hari. Tumbuhan ini mudah hidup tanpa  pemeliharaan khusus dan banyak ditanam dipekarangan atau ladang maupun sebagai tanaman pagar.

Bagi para pujangga/empu jaman kuno, sifat dan manfaat dari Pudhak sangat menarik untuk diabadikan pada karyanya. Mereka berusaha untuk menghayati peranan alam bagi manusia atau sebaliknya. Mereka banyak belajar dan mengambil sesuatu dari alam sekitar sebagai bagian dari ajaran hidup yang bernuansa religi. Simbolisasi Pudhak pada bagian dari Keris merupakan jalan menuju pengalaman spiritual yang menumbuhkan kesadaran hubungan manusia dengan alam dan Tuhan. Para Empu membuka kesadaran manusia untuk selalu mengagumi alam, kemudian mengagumi sang Pencipta. Mereka berusaha mengabadikan dasar-dasar religius alam semesta pada hasil karya teknologi dan budaya untuk meningkatkan kualitas spiritual.

Memberi Tanpa Diminta

Dalam kehidupan ini apakah hidup kita telah memberikan manfaat dan warna bagi orang lain, seperti daun pandan. Bukan sebaliknya seperti "benalu", justru merugikan dan membebani orang lain. Ada piwulang Jawa yang mengatakan "urip iku kudu migunani tumraping liyan" yang berarti "hidup itu harus bermanfaat bagi orang lain". Sebaik-baiknya orang yaitu yang bermanfaat bagi orang lain dan lingkungannya. Sangat berbeda kehidupan modern yang jauh dari nilai-nilai tradisi. Hubungan antar manusia lebih banyak dihitung sejauh menguntungkan atau merugikan secara material. Kepuasan secara material, akan mengikat manusia pada kebudayaan pasar yang umumnya akan berdampak terhadap pemerosotan esensi budaya yang berorientasi spiritual.

Terkadang kita merasa belum cukup untuk berbuat baik bagi orang lain, karena secara materi belum mampu atau merasa bahwa perbuatan kita tidak akan berdampak banyak bagi orang yang membutuhkan. Menjadi orang yang berguna bagi orang lain tidak harus selalu memberi sesuatu hal yang sifatnya materi (harta/uang). Tenaga, pengetahuan, nasehat, perbuatan yang baik, menentreramkan dan perhatian merupakan bantuan moril yang dapat kita berikan selain materi. Setiap saat kita dapat berguna dan bermanfaat bagi orang lain, asal kita ada keikhlasan hati untuk beramal (Jawa: Sepi Ing Pamrih). Dengan segala keterbatasan yang kita miliki, sedikit kebaikan yang mampu kita berikan akan memberikan manfaat dan makna yang besar bagi orang lain. Di hadapan Tuhan, bantuan yang diberikan kepada orang lain tidak dilihat dari jumlahnya. Bobot suatu amal tergantung dari usaha yang kita lakukan dan keikhlasan hati.

Pohon Pandan memberikan manfaat dan makna pada kehidupan manusia tanpa harus menunggu menjadi pohon Kelapa. Pohon pandan sangat memikat bagi para pencari spiritual, ia memberi manfaat bagi kehidupan tanpa diminta. Memberi bukan berarti kehilangan kepemilikan, akan tetapi merupakan pengungkapan perhatian manusia untuk mencintai kehidupan. Sehingga, memberi dan berkorban merupakan ekspresi paling tinggi dari suatu kemampuan. Maka, sekecil apapun kebaikan yang kita berikan, dapat besar artinya orang lain, berguna bagi sesama akan membuat hidup lebih bermakna.

Keselarasan Hidup

Daun Pandan tumbuh simetris-seimbang mengelilingi batang pohonnya dan menjulang ke atas. Daun pandan memberikan gambaran mengenai keharmonisan atau keselarasan. Pandangan Jawa mengenai keharmonisan atau keselarasan bagi sesama (sosial) dan lingkungannya (alam) menjadi suatu hal yang penting. Pandangan ini bukanlah sesuatu pengertian yang abstrak, melainkan berfungsi sebagai sarana dalam usahanya menghadapi masalah kehidupan. Leluhur menyadari betul, bahwa mereka merupakan bagian dan fungsi dari alam, sehingga bahasa alam merupakan rujukan dalam menjalani kehidupannya.

Dalam kehidupan ini, orang perlu menciptakan suasana ketentraman, ketenangan, dan keseimbangan batin pada dirinya maupun bagi sesamanya. Hal tersebut terwujud dengan menciptakan kerukunan, sikap hormat dan menghindari konflik. Dengan demikian, dalam kehidupan orang hendaknya selalu berusaha menjaga keselarasan sosial, bersikap menyesuaikan diri, bersikap sopan santun, dan mewujudkan kerja sama, serta bersikap menghormati kepada orang lain. Hal tersebut memposisikan akal dan rasa dalam diri secara seimbang untuk mengagungkan nilai-nilai kemanusiaan.

Menebar Keharuman

Pudak Sategal menggambarkan wangi yang terus menerus tiada henti (angambar-ambar ganda arum) dari ladang yang luas. Keharuman yang menebar memberikan rasa tenang dan meningkatkan kesabaran dan keheningan dalam berfikir dan bertindak. Keharuman memberikan rasa tenteram dan rasa menyenangkan bagi yang menciumnya. Orang hidup di dunia ini, hendaknya menebarkan aroma harum, seperti harumnya bunga pudhak. Harumnya nama baik manusia sepanjang masa dan selalu dikenang, hanya dapat diperoleh dengan perilaku nyata yang memberikan kebaikan terhadap sesama dan lingkungannya.

Menebar aroma arum harus didasari "ulat manis kang mantesi, ruming wicara kang mranani, sinembuh laku utama". Ulat manis kang mantesi, yaitu bersikap ramah dan menyenangkan hati orang lain, menanggapi seseorang dilandasi dengan kebaikan hati. Ruming wicara kang mranani, yaitu setiap pembicaraan disampaikan dengan cara yang halus, menarik dan menentramkan hati orang lain, bukan sebaliknya justru membuat suasana menjadi gundah. Sinembuh laku utama, yaitu setiap perbuatan dilandasi dengan keikhlasan dan perilaku yang baik (laku utama). Dengan demikian, diharapkan dapat membuat orang menebarkan keharuman (kebaikan) hidupnya bagi orang lain.

Kesimpulan

Pudhak Sategal merupakan simbol dari bunga pandan (pudhak) satu ladang. Bunga pandan satu ladang yang jumlahnya sangat banyak, memberikan keharuman yang tiada habisnya bagi lingkungannya. Meskipun berlimpah, tetapi tidak menganggu, karena justru keharumannya menyenangkan dan menenteramkan. Daun-daun pandan tersusun secara harmonis melingkari batang pohonnya, terlihat selaras dan seimbang. Daun Pandan memberi warna dan aroma pada berbagai jenis makanan. Penamaan Pudhak/Pandan sebagai ricikan keris merupakan manifestasi dari besarnya manfaat bagi kehidupan manusia.

Penggambaran Pudhak pada sebilah keris karena sarat dengan makna dan ajaran-ajaran hidup bagi manusia. Dalam menjalani kehidupan, orang mencapai keutamaan apabila bermanfaat, menyenangkan, menjaga keselarasan dan menentreramkan bagi orang lain dan lingkungannya. Pudak Sategal memberikan makna bahwa dalam kehidupan, banyaklah berbuat kebaikan agar jati diri menebar harum dan dikenang sepanjang masa.

Tulisan asli "Berguru Pada Pudhak Sategal" oleh Wawan Wilwatikta, dikutip dari Semi Jurnal PAMOR edisi 11.
Bahan Bacaan:
Bambang Harsrinuksmo, Ensiklopedia Keris, cetk.1,Gramedia, Jakarta, 2004.
Budiono Herusatoto, Simbolisme Dalam Budaya Jawa, Hanindita Graha Widia, cetk 4, Yogyakarta, 2001.
Franz Magnis Suseno, Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafah tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa., Cetk: 9, Gramedia, Jakarta, 2003
Ng. Ranggasutrasna, Sunan Pakubuwana V, Serat Centhini, Jilid II, Terjmh: Darusuprapta, cetk.1, Balai Pustaka, 1992
Suwardi Endraswara, Falsafah Hidup Jawa, Cakrawala, cetk.2, Yogyakarta, 2006.

Macam-macam Besi Keris

17.31.00 0
Besi Keris adalah bahan logam terpenting dalam pembuatan Tosan Aji (keris, tombak, pedang, dan senjata pusaka lainnya). Bangsa Indonesia mengenal logam besi tanpa melalui zaman perunggu, itulah sebabnya di Indonesia banyak ditemukan berbagai perkakas besi, namun jarang yang terbuat dari perunggu. Pasir besi mudah dijumpai di pulau Jawa sehingga sebagian penduduknya menjadi penempa yang mahir. Seni tempa di Indonesia tidak mungkin memiliki kualitas tinggi seperti sekarang jika tidak tersedia bahan dan pengetahuan akan besi yang luas.

Pengetahuan orang Jawa menyangkut besi keris tidak terbatas pada penempaan besinya saja, tetapi juga pembedaan senyawa besi satu sama lainnya. Ditinjau dari sudut ilmu pengetahuan modern, ilmu ini memang tidak tergolong ilmiah. Raden Ngabehi Ronggowarsito, pujangga besar Keraton Surakarta pada abad 19 juga mencoba membuat catatan mengenai berbagai jenis besi bahan tosan aji yang dikenal oleh para ahli tosan aji Surakarta. Walaupun ditulis seorang pujangga, catatan itu pun masih sulit dimengerti orang-orang di zaman ini.

Di bawah ini adalah beberapa jenis besi menurut catatan beliau, antara lain :
  • Besi Karangkijang, energinya dingin dan sabar.
  • Besi Pulosani, manfaatnya untuk kewibawaan, dapat kaya, dan keriernya baik.
  • Besi Mangangkang (wadon/betina), manfaatnya kalau dibawa pergi mudah dapat rejeki.
  • Besi Walulin, manfaatnya yang punya selalu sehat kuat, dalam bidang pertanian subur tanamannya, dihormati orang banyak, dan dapat berbuat tegas dalam menyelesaikan perkara.
  • Besi Katub, manfaatnya cocok untuk pedagang, apa yang dikehendaki dapat tercapai, dan juga untuk keselamatan.
  • Besi Kamboja, manfaatnya untuk kewibawaan, disegani orang banyak, kariernya baik. Tetapi tidak boleh berbuat jahat, kalau melanggar mendapat celaka.
  • Besi Ambal, manfaatnya dapat menarik keris lain.
  • Besi Winduaji, manfaatnya untuk keselamatan.
  • Besi Tumpang, manfaatnya untuk kewibawaan dan daya pesona.
  • Besi Werani (magnet?), manfaatnya untuk mencapai pangkat tinggi, kaya raya, dan sukses dalam kepemerintahan.
  • Besi Walangi (pelangi), manfaatnya dapat lancar untuk mencari sandang pangan, juga untuk penghasihan, dan jangan untuk usaha simpan pinjam.
  • Besi Terate, manfaatnya dicintai oleh wanita, dan keselamatan.
Raden Mas Ngabehi Ronggowarsito
Ilmu besi keris orang Jawa tidak mengunakan ukuran dan tolak ukur yang bersifat ilmiah, melainkan mengunakan kepekaan perasaan dan panca indera. Zaman dahulu mereka membedakan berbagai jenis besi dengan mengamati, mendengar bunyinya, atau dengan merabanya. Karena itulah ilmu besi tradisional ini sukar dipelajari dan dibuat catatannya. Dalam catatan "Serat WesiAji" terbitan De Blik-sem Solo tahun 1982 dijelaskan ilmu pembagian besi menurut Empu yang umum digunakan saat itu untuk membuat senjata atau benda pusaka (Tosan Aji).

Berikut adalah besi-besi yang dimaksud dalam catatan tersebut :
  1. Besi Karangkijang, adalah besi yang seratnya sepeti air laut. Inilah "pendeta"-nya besi, warna hitam kebiruan, jika dijentik berbunyi ambrengengeng seperti lebah terbang. Tuah besi ini dingin dan ampuh.
  2. Besi Pulasani, adalah besi yang seratnya seperti batu asih (?) warnanya hijau keperakan (Jawa: nyamberlilin), jika dijentik bunyinya Gurrr... Tuahnya tulus, membawa rejeki dan derajat, baik digunakan sebagai bahan pusaka.
  3. Besi Mengangkang, adalah besi yang seratnya polos, berwarna hitam keunguan. Jenis besi ini ada dua macam, mengangkang laki-laki jika dijentik bunyinya Drungngng... (gemanya panjang). Tuahnya baik sekali yakni menambah wibawa. Mengangkang perempuan jika dijentik bunyinya ambrengengeng seperti suara lebah terbang. Tuahnya disayang orang sekelilingnya dan membawa rejeki.
  4. Besi Walulin, adalah besi yang seratnya seperti pasir malela (ada kristal yang mengkilat di permukaannya), warnanya kebiruan, bila dijentik bunyinya Gung... bergetar. Penampilannya akas (berkesan kering). Tuahnya yakni dihormati orang banyak, baik untuk berternak.
  5. Besi Katub, adalah besi yang seratnya seperti rambut, warnanya hitam kehijauan, mengkilat, kalau dijentik bunyinya Kung, ambrengengeng seperti lebah terbang. Tuahnya yakni untuk kekebalan dan baik untuk pedagang.
  6. Besi Kamboja, adalah besi yang warnanya keputihan, seratnya seperti gadung gemerlapan. Jika dijentik bunyinya Tong-ngong...nging (panjang). Inilah "putri"-nya besi, pemiliknya tidak boleh berzina. Tuahnya yakni dihormati orang banyak.
  7. Besi Welangi, adalah besi yang konon berasal dari lautan, warnanya kuning kehijauan. Jika dijentik bunyinya Nging...amberengengeng sepeti suara lebah terbang. Tuahnya untuk keselamatan dan mudah mencari rejeki, tetapi tidak boleh membungakan uang.
  8. Besi Ambal, adalah besi yang berwarna biru kemerahan, konon berasal dari batu gunung. Kalau dijentik bunyinya ambrengengengeng bergetar. Jika dipakai sebagai bahan pembuatan keris, besi ambal ampuh dan bisa "menarik" pusaka lainnya.
  9. Besi Tumpang, adalah besi yang digelari "kuncinya besi". Warnanya biru keunguan, jika dijentik bunyinya Jrung... gaungnya panjang. Tuahnya baik untuk kesaktian dan kewibawaan.
  10. Besi Windudadi, adalah besi yang konon katanya berasal dari tengorokan Sang Hyang Mundikbrata, tidak tenggelam dalam air (?) dan warnanya biru bagaikan kaca (?), kalau dijentik bunyinya Dung... Tuahnya untuk kekuatan dan keteguhan.
  11. Besi Werani, adalah besi yang konon katanya berasal dari gunung Srandil, warnanya hitam keungunan bagaikan bunga Teleng, kalau dijentik bunyinya abrengengengeng... bagai suara lebah terbang. Tuahnya sangat ampuh; kalau pemiliknya tergolong kuat; pangkat dan derajatnya cepat meningkat, kalau tidak kuat malah meyebabkan melarat.
  12. Besi Terate, adalah besi yang warnanya hitam seolah berlumut, konon katanya berasal dari batu asih (?). Kalau dijentik bunyinya ambrengengeng bagai suara lebah terbang, berkahnya jauh dari fitnah dan mudah didekati wanita.
  13. Besi Malela Ruyung, konon asalnya dari batu cendani (?). Warnanya putih kebiruan, berserat seperti rambut. Kalo dijentik berbunyi Preng... bergetar. Tuahnya untuk menambah kebranian dan keteguhan iman.
  14. Besi Balitung, ada dua jenis. Yang baik besinya berasal dari batu, berwarna hitam agak keunguan. Jika dijentik bunyinya Ting... panjang. Tuahnya baik untuk nelayan. Sedangkan yang buruk warnanya agak keruh, jika dijentik bunyinya Ngeng, pendek. Tuahnya buruk menyebabkan melarat.
  15. Besi Kenur, adalah besi yang berwarna hitam mengkilat bagai bulu burung gagak. Jaka dijentik bunyinya Srung...Ambrengengeng. Tuahnya baik untuk berdagang dan menyimpan uang banyak.
  16. Besi Malela Kendaga, kadang juga disebut besi Loya. Bila dijentik bunyinya Tung... Tuahnya baik untuk menambah keberanian dan menjaga keteguhan iman.
  17. Besi Tumbuk, konon berasal dari Sailan. Warnanya putih kekuningan gemerlap bagai batu karang. Jika dijentik bunyinya Gong...ambrengengeng. Tuahnya baik untuk menyimpan harta serta ditakuti jin dan setan.
Ketujuh belas jenis besi diatas tergolong besi yang baik digunakan dalam bahan pembuatan senjata pusaka. Selain itu ada juga jenis-jenis besi yang tergolong buruk. Besi yang dianggap buruk untuk bahan pembuatan pusaka adalah besi Kantet, besi Malik, besi Kelengan, dan besi Enuh. Jelas bahwa pembagian jenis-jenis besi diatas tidak ada kaitannya dengan ilmu metalurgi. Bahkan bisa jadi yang disebut "besi" oleh nenek moyang kita dulu tidak harus besi murni (Fe, ferrum) yang kita kenal sekarang. Mungkin beberapa jenis logam yang lain juga disebut besi.

Dikutip dengan perubahan seperlunya dari berbagai sumber.

Cara Membuat Keris

17.27.00 0
Keris dengan segala cerita dan legenda magisnya masih tetap eksis hingga kini. Meski demikian, keris dalam perkembangannya dikoleksi bukan lantaran kesaktian atau tuahnya, tetapi juga keindahan dari fisik keris itu sendiri. Proses pembuatan keris tidak beda dengan benda-benda seni kriya lain, seperti ukir atau pahat (batu, kayu, tulang, besi). Yang sangat membedakan justru pada kisah-kisah magis yang dibangun bersama kehadiran keris dan tombak.

Kisah-kisah magis itulah yang menjadikan keris sangat sulit untuk diproduksi massal. Tidak semua orang mau mengoleksi keris sebagai benda seni, karena takut. Namun dari kisah-kisah magis itu pulalah keris menjadi seni tingkat tinggi yang hanya dinikmati oleh mereka yang benar-benar mengerti, memahami dan menghargai serta mencintai benda yang dihasilkan oleh seni tempa itu.

Dalam dunia pewayangan, cerita-cerita kehebatan tentang keris menjadi sangat dominan. Hampir setiap tokoh wayang memiliki senjata berupa keris. Wayang purwa dengan kisah Mahabarata dan Ramayana yang berkembang sejak zaman Majapahit akhir dan masuknya peradaban Islam, menempatkan keris sebagai benda yang begitu penting. Empu-empu keris dalam kisah pewayangan hanya selalu disebutkan namanya, tetapi tidak pernah diperlihatkan sosoknya. Empu Ramadi, merupakan salah satu yang paling terkenal. Bahkan Ki Dalang sering menyebutkan bahwa Empu Ramadi merupakan pembuat keris di Kahyangan, alamnya para dewa. Keris-keris yang sangat populer di dunia pewayangan antara lain Kalamisani, Kalanadah, Pulanggeni, Jalak, Carubuk. Sedangkan yang berupa panah antara lain Guwawijaya, Pasopati, Chakra, Nagabanda, dan Cundamanik. Yang berupa gada antara lain gada Rujakpolo, Lukitasari, dan Wesi Kuning.

Di zaman Mataram Islam, Sultan Agung Hanyakrakusuma menciptakan tokoh raksasa bernama Buto Cakil. Tokoh ini merupakan petarung yang sangat ahli memainkan keris. Keris Kolomunyeng namanya. Namun, karena Buto Cakil memang diciptakan sebagai tokoh jahat, dalam setiap penampilannya, Buto Cakil selalu mati oleh kerisnya sendiri. Di zaman Islam keris dan senjata tombak yang sangat terkenal adalah Keris Setan Kober, milik Adipati Jipang Arya Penangsang. Tombak Kyai Ageng Plered milik Panembahan Senapati. Bahkan dalam perjalanan sejarahnya, Pangeran Diponegoro selalu mempersenjatai diri dengan sebilah keris. Bisa dilihat dalam lukisan-lukisan Diponegoro, keris selalu menjadi bagian yang tidak pernah ketinggalan. Demikian pula dengan bapak TNI, Jenderal Sudirman yang selalu mengenakan keris dalam setiap penampilannya.

Benarkah keris merupakan benda sakti? Jawabnya ada pada anda semua. Demikian juga jika ditanyakan, benarkah keris itu indah, jawabnya juga ada dalam diri anda semua. Tetapi untuk melestarikan keris, para pekerja seni banyak yang sudah mencurahkan perhatian. Entah sebagai kolektor, pedagang, pengagum atau bahkan pembuat. Mereka memiliki andil yang sangat besar dalam mengembangkan budaya warisan leluhur kita itu. Bagaimana membuat keris, adalah pertanyaan yang paling menarik. Karena jika ingin menjadi kolektor, sediakan saja uang yang cukup, maka syarat mendasar yang dibutuhkan sudah anda miliki.

Pada dasarnya, sebilah keris terdiri atas tiga jenis unsur logam, besi, baja, dan pamor (bisa terbuat dari nikel dan yang lebih mahal terbuat dari batu meteorit). Namun, untuk keris tanpa pamor (kelengan) hanya terdiri atas dua bahan, baja dan besi. Mengawali pembuatan keris, seorang empu akan memilih besi terbaik untuk mendapatkan hasil yang baik. Secara kasat mata, besi yang berumur tua akan menghasilkan keris yang bagus karena karat pada besi berusia tua lebih sedikit dibandingkan dengan besi berusia muda.

Berikut di bawah ini adalah nama-nama alat dan istilah yang biasa dipergunakan para Empu pembuat keris dalam bekerja secara tradisional. Seperti yang ada di besalen milik Ki Sungkowo Harumbrojo di Gatak, Sumberagung, Moyudan, Sleman, Yogyakarta.
  • Empu: Pembuat keris
  • Panjak: Asisten pembuat keris. Panjak terdiri atas dua orang, satu bertugas menyalakan api dan memompa sehingga api terus menyala. Asisten lainnya bertugas menghantamkan palu (gandin besi) pada saat proses penempaan.
  • Besalen: Studio atau bengkel pembuatan keris
  • Paron: Alas menempa besi. Terbuat dari besi baja berbentuk mirip lingga. Biasanya disebut paron dengkul karena bentuknya mirip lutut orang yang sedang jongkok.
  • Kowen: Tempat air untuk mendinginkan alat-alat.
  • Cakarwa: Alat sejenis gancu yang berfungsi untuk mengarahkan bara api.
  • Ububan: Sejenis pompa. Terdiri atas dua tabung kayu yang bentuknya persis dengan pompa-pompa yang kita kenal di bengkel-bengkel. Sekarang alat ini diganti menggunakan blower.
  • Wirungan: terbuat dari balok batu yang dilubangi di tengahnya. Berfungsi sebagai alat memfokuskan angin sehingga yang dihasilkan oleh pemompaan pada ububan.
  • Supit: alat sejenis tang dengan ukuran yang berbeda-beda (setidaknya membutuhkan lima supit dengan ukuran berbeda-beda) sebagai alat memegangi besi yang dibakar. Digunakan saat besi dibakar atau saat besi ditempa.
  • Ploncon: terbuat dari dua batang kayu yang digandeng. Di atas dua batang kayu inilah empu melakukan pengikiran dan menyempurnakan bentuk keris.
  • Gandhen besi: Yang paling besar seberat 2 kg, biasanya dipegang oleh panjak.
  • Mimbal: palu besi dengan ukuran lebih kecil (kurang lebih seberat 5 ons), yang biasa dipegang oleh empu.
  • Kikir: Ada berbagai bentuk kikir dengan ukuran kasar dan halus yang berbeda-beda.
  • Arang kayu jati: berguna sebagai bahan bakar. Selama ini diyakini arang kayu jati merupakan penghasil panas terbaik, karena pemijaran sempurna hanya dihasilkan ketika panas besi yang dipijar mencapai 1.100 derajat celcius.
  • Wungkal atau gerinda: Batu pengasah
  • Jeruk nipis: digunakan untuk mencuci keris yang secara fisik sudah selesai dibentuk dan diasah.
  • Batu Warangan atau arsenikum: berfungsi untuk memunculkan pamor pada proses terakhir pembuatan keris. Tetapi harus hati-hati sekali, karena arsenikum mengandung racun yang berbaya bagi kesehatan.
  • Tlawah: Balok kayu yang dilubangi di tengahnya, berfungsi untuk merendam keris dengan air jeruk nipis saat dilakukan pencucian.
Proses pembuatan keris diawali dengan pemilihan bahan baku yang baik. Dalam kasanah perkerisan ada berbagai jenis besi. Yang sering disebut-sebut ada besi Mangangkang, Pulosani, Balitung dan sebagainya. Tentu hanya mereka yang sudah mahir yang memiliki kemampuan memilih besi mana yang baik dan mana yang tidak baik sebagai bahan keris. Masing-masing pembuat keris memiliki keterampilan berbeda-beda. Ada yang hanya dengan cara mengamati fisik dan warna besi, ada yang harus memukul dan dari suara dentangan besi itu bisa ditentukan pilihannya. Semua itu, konon tergantung kebiasaan dari pembuat keris, dan konon pula hasilnya akan sama, karena tujuannya sama; memilih bahan yang bagus.

Besi yang sudah ditentukan, kemudian dibentuk menjadi balok lebar sekitar 5 sentimeter, tebal 2-3 cm. Ada dua balok besi berukuran, bentuk dan berat dibuat sama. Langkah kedua, menyiapkan pamor. Ada beberapa jenis pamor yang biasa dipakai. Lazimnya, sekarang para pembuat keris mempergunakan nikel. Besi nikel bisa didapatkan di pasar besi tua dengan mudah. Namun ada juga yang mempergunakan velg mobil atau sepeda motor bekas.

Untuk keris tertentu, biasanya pesanan , batu meteorit dipakai sebagai pamor. Namun karena barang ini sudah sangat langka, meteorit bisa "dikumpulkan" dari pedang atau keris tua yang sudah tidak terawat kemudian dilebur untuk diambil pamornya. Jika pamor yang dipakai berupa kepingan kecil-kecil, untuk mengumpulkannya bisa diakali dengan membuat amplop dari lempengan besi. Kepingan-kepingan tersebut kemudian dimasukkan dalam amplop tersebut, disatukan dan kemudian dibentuk menjadi balok yang bentuknya sama dengan balok besi yang disiapkan di awal.

Balok berisi nikel, dijepit di antara dua balok (batangan) besi dan kemudian dibakar. Proses pembakaran diperkirakan mencapai 1.000 derajat celcius lebih. Jika pada bara api sudah muncul kembang api yang berasal dari balok-balok besi yang dibakar tadi, proses penempaan segera dimulai. Proses penempaan ini merupakan cara untuk menyatukan tiga balok tersebut. Dalam proses ini, ketiga balok harus benar-benar rekat, karena saat itulah seorang empu sedang mengawali pembuatan motif pamor. Jika sudah benar-benar menyatu, besi itu kemudian dipotong menjadi dua, sehingga pamor akan menjadi dua lapis. Dilanjutkan seperti pada proses awal, yakni perekatan dan pemanjangan besi yang sudah berpamor itu. Demikian seterusnya penempaan dilakukan, sampai mendapatkan lapisan besi dengan lapisan-lapisan yang diinginkan. Semakin banyak lapisan, akan semakin halus pamor yang diperoleh. Menghitung lapisannya menggunakan deret ukur. 1, 2, 4, 8, 16, 32, 62 dan seterusnya.

Bahan dasar besi berpamor ini, sudah bisa dipergunakan untuk pamor jenis beras wutah (wos wutah). Misalnya pada kelipatan 62, proses dihentikan pun bisa. Besi berpamor itu kemudian dibagi dua, dan dibentuk menjadi trapesium. Ujung yang lebih kecil diarahkan menjadi bagian ujung keris, sedangkan yang lebar diarahkan menjadi bagian pangkal keris. Berikutnya, disiapkan potongan baja murni dan dibentuk trapesium sedikit lebih lebar dibanding trapesium dengan bahan besi berpamor. Tiga trapesium ini kemudian direkatkan dengan pembakaran yang sama sebagaimana dilakukan pada proses pembuatan bahan dasar besi berpamor.

Daya tarik keris masa kini selain pada desain fisik, juga terutama pada motif pamornya. Ada ribuan motif pamor yang sudah diciptakan para empu keris, dari yang tradisional/pakem hingga kontemporer. Cara membuat pamor keris antara keris yang satu dan yang lain tidak akan sama. Hal itu disebabkan kreasi, proses penempaan, proses pembakaran dan lain sebagainya yang dilakukan para pembuat keris.

Pamor beras wutah, merupakan motif dasar dari segala jenis pamor. Dari pamor beras wutah yang hanya berupa lapisan-lapisan pamor, kemudian dibentuk menjadi berbagai jenis dengan menambah langkah-langkah pelipatan, arah lipatan, pilinan, pengikiran, atau keras lembutnya hantaman palu pada saat proses penempaan. Pamor adeg sapu, hanya berupa garis-garis berdiri. Dibuat dengan cara mengambil penampang dari pamor beras wutah. Pamor udan mas, menggunakan pamor beras wutah yang diberi aksen-aksen seperti bulatan di beberapa titik. Cara membuat bulatan, keris yang sudah setengah jadi, diberi ketokan menggunakan besi sehingga menimbulkan luka. Saat dikikir, titik-titik ketokan itu yang melesak ke dalam akan memunculkan bulatan-bulatan.

Pamor bonang serenteng, cara pembuatannya sama persis dengan pamor udan mas. Bedanya, jika dalam pamor udan mas posisi aksen ketokan tidak sejajar, sedangkan pada pamor bonang serenteng posisi ketokan sejajar di kiri dan kanan dari pangkal hingga ujung keris. Pamor ujung gunung, seperti membuat pamor adeg sapu. Bedanya, sebelum dibentuk keris, lipatan pamor yang masih bahan ditekuk. Dari tekukan itulah kemudian akan muncul pamor bentuk garis-garis mengerucut seperti garis gunung yang bertumpuk-tumpuk.

Pamor kembang anggrek (ada yang menyebut ron genduru). Proses pembuatan pamor jenis ini cukup memerlukan waktu. Besi yang sudah mengandung lipatan-lipatan pamor, dibentuk menjadi plat panjang. Plat tersebut kemudian dilipat-lipat dan direkatkan. Pinggir-pinggir lipatan dibuang dengan cara digergaji. Hanya bagian tengah lipatan saja yang dimanfaatkan. Besi berpamor lipatan yang sudah dalam ujud tumpukan-tumpukan itu kemudian dibelah tengahnya dalam posisi berdiri menggunakan pasak besi. Untuk membelah, harus melalui proses pembakaran. Sebab, lajur yang dilalui pasak besi itulah yang nantinya akan membentuk pamor sehingga menghasilkan lukisan seperti kembang anggrek. Pamor tambal, adalah motif pamor yang dibuat dengan cara menempelkan gulungan atau lipatan besi berpamor pada baja yang kemudian dibentuk menjadi keris.

Tentu akan sangat panjang menuturkan pembuatan masing-masing pamor. Dalam perkembangan modern, empu-empu masa kini sangat rajin membuat desain-desain pamor selain desain kerisnya.

Disadur dari Kompas, Tulisan asli oleh IGN Sawabi